Seringai - Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka!
Selamat datang di era kemunduran,
pikiran tertutup jadi andalan.
Praduga tumbuh tenteram,
menghakimi sepihak, sebar ketakutan.
Membakukan persepsi, bukan jadi jawaban
atau gagasan bijak.
Selangkah maju ke depan,
empat langkah ke belakang,
kita takkan beranjak.
Mereka, bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka!
Selamat tinggal, era kemajuan,
lupakan harapan dan kehidupan.
Menjauh dari akar masalah,
mendekatkan kepada kebodohan yang dipertahankan.
Privasi. Seni.
Siapa engkau yang menghakimi?
Masih banyak masalah, dan lebih krusial,
tidak bicara asal.
Mereka bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.
Berikutnya….
Sudahkah merdeka??
Sudahkah dirimu merdeka??
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka!
tu wa ga pat!
Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata "Individu Merdeka"? Mungkin anda akan mengerutkan dahi ter-heran mengapa Seringai menyuarakan kemerdekaan secara individu di negara yang konon sudah merdeka ini. Mengadili Persepsi adalah sebuah lagu kritik nyata terhadap pemerintahan fasis era Soeharto yang mewariskan kebodohan dan rekam jejak nya masih terasa di era reformasi.
Pada bait kedua dapat kita cermati bahwa pada rezim orde baru kemerdekaan individu benar-benar dikekang oleh kekuasaan absolut "The Smiling General". Pikiran tertutup tidak mau menerima kritik ala Soeharto terbukti dengan adanya pelarangan pergerakan atau bahkan diskusi politik di lingkungan kampus karena dikhawatirkan dapat merusak dinasti yang ia bangun. Menghakimi se-pihak menjadi andalan rezim orde baru dimana para seniman yang terbukti melakukan kritik terhadapnya akan dimasukan penjara atau bahkan dicap sebagai partisan PKI seperti yang mereka tuduhkan kepada Pramoedya Ananta Toer.
Sejatinya meskipun mendapat julukan sebagai bapak pembangunan, Soeharto juga membangun paradigma buruk di masyarakat yang menyebabkan rakyat Indonesia berjalan di tempat, lebih tepatnya hanya berkutat pada propaganda yang ia ciptakan."Mereka" yang dimaksud dalam bait ke 4 adalah simpatisan cendana yang terang terangan ikut meraup keuntungan dari Korupsi 30% APBN. Mereka adalah orang-orang yang telah rusak jiwanya karena ketamakan menginginkan korupsi tumbuh subur di Negeri ini. Mereka memposisikan diri atas Tuhan nya dengan melenggakan isu isu rasial hingga isu-isu yang berbau Agama.
Pada bait ke 6 tersirat dimana meskipun orde baru telah tumbang di tahun 98. Dampaknya tetap terasa dikarenakan sistem yang salah tersebut tidak benar benar dilenyapkan. Dan bahkan orang-orang yang berada dan turut menyuburkan rezim orde baru tetap ada di Pemerintahan bahkan setelah era reformasi berjalan. Ya, sistem yang rusak itu tetap dipertahankan.
Sudahkah anda merdeka secara individu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar