Minggu, 28 Mei 2017

Jadikan Dia Pahlawan Buruh


Marsinah - Marjinal

Kulihat
Buruh perempuan
Berkeringat
Membasahi bumi
Yang gelap

Energi yang kau curahkan
Begitu besar tlah kurasakan
Terhanyut dalam kesombongan terlupakan

Gemerlap cahayamu
Membentangi garis kehidupan
Ada lara rintih caci maki
Kau hadapi

Keringat dan ketegaranmu
Mengalir deras tak ternilai
Hanya tetes darah dan air mata
Yang kau curah

Ooo Marsinah
Kau termarjinalkan
Ooo Marsinah
Matimu tak sia sia


Pada lirik berjudul Marsinah dari Marjinal ini menceritakan kematian Marsinah seorang buruh wanita sekaligus aktifis yang vokal menyuarakan hak-hak buruh yang diculik dan dihilangkan nyawanya dengan kekerasan yang berat. Pada bait pertama "Kulihat Buruh perempuan Berkeringat Membasahi bumi Yang gelap" Menjelaskan bagaimana seorang buruh wanita yang bekerja keras untuk menyuarakan dan menuntut apa saja hak-hak untuk buruh, atas kekeliruan sistem pabrik yang memperlakukan buruh dengan semena-mena. Dalam kegelapan sistem tersebut Marsinah berusaha keras untuk meminta keadilan atas hak-hak seorang buruh.

Semangat juang dari seorang Marsinah terlihat dalam bait kedua "Energi yang kau curahkan Begitu besar tlah kurasakan Terhanyut dalam kesombongan terlupakan" usaha-usaha Marsinah untuk menuntut hak-hak buruh tak pernah padam hingga hidup di diri para pemuda saat ini, ada seperti suatu semangat yang Marsinah tularkan pada 'aku' dalam lirik tersebut. Bagaimana buruh-buruh yang dedikasinya sangat besar itu seringkali terlupakan, hingga hak-hak mereka sering pula tidak dipenuhi. Itulah yang membuat Marsinah merasa perlu untuk bersusah payah membela buruh.
Dalam bait ketiga "Gemerlap cahayamu Membentangi garis kehidupan Ada lara rintih caci maki Kau hadapi." Marsinah adalah seorang pahlawan untuk para buruh, usahanya tak hanya hidup saat ia masih hidup bahkan ketika ia telah meninggal itu menjadi sebuah semangat untuk para buruh menuntuk hak-hak mereka. Meski dalam perjuangannya ia menemukan banyak kesengsaraan menghampiri kehidupannya caci maki terhadanya, ia tetap tegak dan tak pernah mundur menyampaikan suaranya.

"Keringat dan ketegaranmu Mengalir deras tak ternilai Hanya tetes darah dan air mata Yang kau curah" bait tersebut menjelaskan ketegaran dan usaha Marsinah yang sangat berharga bahwa perjuangannya tak bisa hanya dipandang sebagai angin lalu saja hingga ia harua meninggal dengan cara yang tidak berkemanusiaan, air mata yang selama ini mengalir deras. Marsinah kehilangan nyawa hanya karena ia menuntut hak-hak buruh yang tidak dipenuhi oleh penguasa.


Untuk bait terakhir "Ooo Marsinah Kau termarjinalkan Ooo Marsinah Matimu tak sia sia" Marsina ia sudah terpinggirkan tapi kematiannya tak pernah jadi sia-sia. Ia menjadi seseorang yang tak takut penguasa karena ia benar. Meski ia dipandang sebelah mata tapi kematiannya membuat banyak orang sadar bahwa hak-hak buruh harus terus disuarakan. Kematiannya tak pernah menjadi sia-sia karena usaha dan kerja kerasnya akan terus terkenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sudahkah Merdeka?

Seringai - Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan) Individu, individu merdeka Individu, individu merdeka Individu, individu merdeka...