Minggu, 28 Mei 2017

Sudahkah Merdeka?


Seringai - Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)

Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka!

Selamat datang di era kemunduran,
pikiran tertutup jadi andalan.
Praduga tumbuh tenteram,
menghakimi sepihak, sebar ketakutan.

Membakukan persepsi, bukan jadi jawaban
atau gagasan bijak.
Selangkah maju ke depan,
empat langkah ke belakang,
kita takkan beranjak.

Mereka, bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.

Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka!

Selamat tinggal, era kemajuan,
lupakan harapan dan kehidupan.
Menjauh dari akar masalah,
mendekatkan kepada kebodohan yang dipertahankan.

Privasi. Seni.
Siapa engkau yang menghakimi?
Masih banyak masalah, dan lebih krusial,
tidak bicara asal.

Mereka bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.
Berikutnya….

Sudahkah merdeka??
Sudahkah dirimu merdeka??

Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka!


tu wa ga pat!

Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata "Individu Merdeka"? Mungkin anda akan mengerutkan dahi ter-heran mengapa Seringai menyuarakan kemerdekaan secara individu di negara yang konon sudah merdeka ini. Mengadili Persepsi adalah sebuah lagu kritik nyata terhadap pemerintahan fasis era Soeharto yang mewariskan kebodohan dan rekam jejak nya masih terasa di era reformasi.

Pada bait kedua dapat kita cermati bahwa pada rezim orde baru kemerdekaan individu benar-benar dikekang oleh kekuasaan absolut "The Smiling General". Pikiran tertutup tidak mau menerima kritik ala Soeharto terbukti dengan adanya pelarangan pergerakan atau bahkan diskusi politik di lingkungan kampus karena dikhawatirkan dapat merusak dinasti yang ia bangun. Menghakimi se-pihak menjadi andalan rezim orde baru dimana para seniman yang terbukti melakukan kritik terhadapnya akan dimasukan penjara atau bahkan dicap sebagai partisan PKI seperti yang mereka tuduhkan kepada Pramoedya Ananta Toer.

Sejatinya meskipun mendapat julukan sebagai bapak pembangunan, Soeharto juga membangun paradigma buruk di masyarakat yang menyebabkan rakyat Indonesia berjalan di tempat, lebih tepatnya hanya berkutat pada propaganda yang ia ciptakan."Mereka" yang dimaksud dalam bait ke 4 adalah simpatisan cendana yang terang terangan ikut meraup keuntungan dari Korupsi 30% APBN. Mereka adalah orang-orang yang telah rusak jiwanya karena ketamakan menginginkan korupsi tumbuh subur di Negeri ini. Mereka memposisikan diri atas Tuhan nya dengan melenggakan isu isu rasial hingga isu-isu yang berbau Agama.

Pada bait ke 6 tersirat dimana meskipun orde baru telah tumbang di tahun 98. Dampaknya tetap terasa dikarenakan sistem yang salah tersebut tidak benar benar dilenyapkan. Dan bahkan orang-orang yang berada dan turut menyuburkan rezim orde baru tetap ada di Pemerintahan bahkan setelah era reformasi berjalan. Ya, sistem yang rusak itu tetap dipertahankan.

Sudahkah anda merdeka secara individu?

Jadikan Dia Pahlawan Buruh


Marsinah - Marjinal

Kulihat
Buruh perempuan
Berkeringat
Membasahi bumi
Yang gelap

Energi yang kau curahkan
Begitu besar tlah kurasakan
Terhanyut dalam kesombongan terlupakan

Gemerlap cahayamu
Membentangi garis kehidupan
Ada lara rintih caci maki
Kau hadapi

Keringat dan ketegaranmu
Mengalir deras tak ternilai
Hanya tetes darah dan air mata
Yang kau curah

Ooo Marsinah
Kau termarjinalkan
Ooo Marsinah
Matimu tak sia sia


Pada lirik berjudul Marsinah dari Marjinal ini menceritakan kematian Marsinah seorang buruh wanita sekaligus aktifis yang vokal menyuarakan hak-hak buruh yang diculik dan dihilangkan nyawanya dengan kekerasan yang berat. Pada bait pertama "Kulihat Buruh perempuan Berkeringat Membasahi bumi Yang gelap" Menjelaskan bagaimana seorang buruh wanita yang bekerja keras untuk menyuarakan dan menuntut apa saja hak-hak untuk buruh, atas kekeliruan sistem pabrik yang memperlakukan buruh dengan semena-mena. Dalam kegelapan sistem tersebut Marsinah berusaha keras untuk meminta keadilan atas hak-hak seorang buruh.

Semangat juang dari seorang Marsinah terlihat dalam bait kedua "Energi yang kau curahkan Begitu besar tlah kurasakan Terhanyut dalam kesombongan terlupakan" usaha-usaha Marsinah untuk menuntut hak-hak buruh tak pernah padam hingga hidup di diri para pemuda saat ini, ada seperti suatu semangat yang Marsinah tularkan pada 'aku' dalam lirik tersebut. Bagaimana buruh-buruh yang dedikasinya sangat besar itu seringkali terlupakan, hingga hak-hak mereka sering pula tidak dipenuhi. Itulah yang membuat Marsinah merasa perlu untuk bersusah payah membela buruh.
Dalam bait ketiga "Gemerlap cahayamu Membentangi garis kehidupan Ada lara rintih caci maki Kau hadapi." Marsinah adalah seorang pahlawan untuk para buruh, usahanya tak hanya hidup saat ia masih hidup bahkan ketika ia telah meninggal itu menjadi sebuah semangat untuk para buruh menuntuk hak-hak mereka. Meski dalam perjuangannya ia menemukan banyak kesengsaraan menghampiri kehidupannya caci maki terhadanya, ia tetap tegak dan tak pernah mundur menyampaikan suaranya.

"Keringat dan ketegaranmu Mengalir deras tak ternilai Hanya tetes darah dan air mata Yang kau curah" bait tersebut menjelaskan ketegaran dan usaha Marsinah yang sangat berharga bahwa perjuangannya tak bisa hanya dipandang sebagai angin lalu saja hingga ia harua meninggal dengan cara yang tidak berkemanusiaan, air mata yang selama ini mengalir deras. Marsinah kehilangan nyawa hanya karena ia menuntut hak-hak buruh yang tidak dipenuhi oleh penguasa.


Untuk bait terakhir "Ooo Marsinah Kau termarjinalkan Ooo Marsinah Matimu tak sia sia" Marsina ia sudah terpinggirkan tapi kematiannya tak pernah jadi sia-sia. Ia menjadi seseorang yang tak takut penguasa karena ia benar. Meski ia dipandang sebelah mata tapi kematiannya membuat banyak orang sadar bahwa hak-hak buruh harus terus disuarakan. Kematiannya tak pernah menjadi sia-sia karena usaha dan kerja kerasnya akan terus terkenang.

Munir : Sebuah Pesan dari Efek Rumah Kaca

Di Udara - Efek Rumah Kaca

Aku sering diancam
juga teror mencekam
Kerap ku disingkirkan
sampai dimana kapan

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

Aku sering diancam
juga teror mencekam
Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

[Reff:]
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti


Dalam lirik lagu Di Udara - Efek Rumah Kaca ini mengangkat fenomena bagaimana kehidupan saat rezim orde baru berlangsung dan lirik tersebut juga diyakini adalah kritik untuk kemirisan atas kematian Munir. Ketika setiap orang yang melawan pemimpin yang tengah menjabat saat itu harus siap-siap untuk mendapatkan sebuah ancaman. Seperti dalam bait pertama lirik tersebut "Aku sering diancam juga teror mencekam Kerap ku disingkirkan sampai dimana kapan". Menjelaskan bagaimana seseorang sering diancam atau di teror oleh orang-orang yang merasa terganggu dengan apa yang dilakukan si 'aku' dalam lirik tersebut. Tak jarang pula ia mendapat ancaman akan disingkirkan entah saat dimana atau kapan waktunya.

Pada bait kedua "Ku bisa tenggelam di lautan Aku bisa diracun di udara Aku bisa terbunuh di trotoar jalan tapi aku tak pernah mati Tak akan berhenti" menjelaskan dimana saja dan dengan cara apapun si "aku" bisa saja mati hanya karena apa yang dilakukan olehnya yang membuat pemimpin saat itu merasa terancam. Pada larik 'aku bisa diracun di udara' pembuat lirik memasukan unsur dari peristiwa meninggalnya Munir, yang menjadi sebuah tanda tanya besar hingga saat ini atas kematiannya yang janggal di pesawat yang sedang terbang menuju Belanda. Ancaman itu bukan hanya sebuah ancaman tapi bisa benar-benar terjadi bahkan bisa ditikam ketika berjalam di trotoar.

Di bait ketiga "Aku sering diancam juga teror mencekam Ku bisa dibuat menderita Aku bisa dibuat tak bernyawa di kursi-listrikkan ataupun ditikam." Ancaman dan teror itu bisa dengan banyak cara dengan membuat si 'aku' menderita atau membuatnya terbunuh dengan cara dikursi listrikan atau ditikam. Ancaman dan teror itu akan terus berlanjut seiring sikap kita terhadap pemimpin pada saat itu, semunya harus tertata rapi tak ada yang boleh untuk melawan pemimpin bahkan untuk menuntut sebuah keadilan.

Untuk bait selanjutnya "Tapi aku tak pernah mati Tak akan berhenti Tapi aku tak pernah mati Tak akan berhenti." ketika Munir mati, sebenarnya ia tak mati sebab ia tetap hidup di jiwa-jiwa banyak orang yang masih peduli akan peristiwa tersebut. Tak akan berhenti untuk terus berjuang membela keadilan dan kebenaran. Kejadian tersebut hanya membuat jasadnya Munir saja yang mati tapi pemikiran dan semangatnya untuk membela HAM hidup di kepala banyak orang. Tak akan benar-benar berhenti.




Sudahkah Merdeka?

Seringai - Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan) Individu, individu merdeka Individu, individu merdeka Individu, individu merdeka...