Aku sering diancam
juga teror mencekam
Kerap ku disingkirkan
sampai dimana kapan
Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Aku sering diancam
juga teror mencekam
Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam
Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
[Reff:]
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Dalam lirik lagu Di Udara - Efek Rumah Kaca
ini mengangkat fenomena bagaimana kehidupan saat rezim orde baru berlangsung dan
lirik tersebut juga diyakini adalah kritik untuk kemirisan atas kematian Munir. Ketika
setiap orang yang melawan pemimpin yang tengah menjabat saat itu harus
siap-siap untuk mendapatkan sebuah ancaman. Seperti dalam bait pertama lirik
tersebut "Aku sering diancam juga teror mencekam Kerap ku disingkirkan sampai
dimana kapan". Menjelaskan bagaimana seseorang sering diancam atau di
teror oleh orang-orang yang merasa terganggu dengan apa yang dilakukan si 'aku'
dalam lirik tersebut. Tak jarang pula ia mendapat ancaman akan disingkirkan
entah saat dimana atau kapan waktunya.
Pada bait kedua "Ku bisa tenggelam di
lautan Aku bisa diracun di udara Aku bisa terbunuh di trotoar jalan tapi aku
tak pernah mati Tak akan berhenti" menjelaskan dimana saja dan dengan cara
apapun si "aku" bisa saja mati hanya karena apa yang dilakukan
olehnya yang membuat pemimpin saat itu merasa terancam. Pada larik 'aku bisa
diracun di udara' pembuat lirik memasukan unsur dari peristiwa meninggalnya
Munir, yang menjadi sebuah tanda tanya besar hingga saat ini atas kematiannya yang
janggal di pesawat yang sedang terbang menuju Belanda. Ancaman itu bukan hanya
sebuah ancaman tapi bisa benar-benar terjadi bahkan bisa ditikam ketika
berjalam di trotoar.
Di bait ketiga "Aku sering diancam juga
teror mencekam Ku bisa dibuat menderita Aku bisa dibuat tak bernyawa di
kursi-listrikkan ataupun ditikam." Ancaman dan teror itu bisa dengan
banyak cara dengan membuat si 'aku' menderita atau membuatnya terbunuh dengan
cara dikursi listrikan atau ditikam. Ancaman dan teror itu akan terus berlanjut
seiring sikap kita terhadap pemimpin pada saat itu, semunya harus tertata rapi
tak ada yang boleh untuk melawan pemimpin bahkan untuk menuntut sebuah keadilan.
Untuk bait selanjutnya "Tapi aku tak
pernah mati Tak akan berhenti Tapi aku tak pernah mati Tak akan berhenti."
ketika Munir mati, sebenarnya ia tak mati sebab ia tetap hidup di jiwa-jiwa
banyak orang yang masih peduli akan peristiwa tersebut. Tak akan berhenti untuk
terus berjuang membela keadilan dan kebenaran. Kejadian tersebut hanya membuat jasadnya
Munir saja yang mati tapi pemikiran dan semangatnya untuk membela HAM hidup di
kepala banyak orang. Tak akan benar-benar berhenti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar