Minggu, 28 Mei 2017

Munir : Sebuah Pesan dari Efek Rumah Kaca

Di Udara - Efek Rumah Kaca

Aku sering diancam
juga teror mencekam
Kerap ku disingkirkan
sampai dimana kapan

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

Aku sering diancam
juga teror mencekam
Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

[Reff:]
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti


Dalam lirik lagu Di Udara - Efek Rumah Kaca ini mengangkat fenomena bagaimana kehidupan saat rezim orde baru berlangsung dan lirik tersebut juga diyakini adalah kritik untuk kemirisan atas kematian Munir. Ketika setiap orang yang melawan pemimpin yang tengah menjabat saat itu harus siap-siap untuk mendapatkan sebuah ancaman. Seperti dalam bait pertama lirik tersebut "Aku sering diancam juga teror mencekam Kerap ku disingkirkan sampai dimana kapan". Menjelaskan bagaimana seseorang sering diancam atau di teror oleh orang-orang yang merasa terganggu dengan apa yang dilakukan si 'aku' dalam lirik tersebut. Tak jarang pula ia mendapat ancaman akan disingkirkan entah saat dimana atau kapan waktunya.

Pada bait kedua "Ku bisa tenggelam di lautan Aku bisa diracun di udara Aku bisa terbunuh di trotoar jalan tapi aku tak pernah mati Tak akan berhenti" menjelaskan dimana saja dan dengan cara apapun si "aku" bisa saja mati hanya karena apa yang dilakukan olehnya yang membuat pemimpin saat itu merasa terancam. Pada larik 'aku bisa diracun di udara' pembuat lirik memasukan unsur dari peristiwa meninggalnya Munir, yang menjadi sebuah tanda tanya besar hingga saat ini atas kematiannya yang janggal di pesawat yang sedang terbang menuju Belanda. Ancaman itu bukan hanya sebuah ancaman tapi bisa benar-benar terjadi bahkan bisa ditikam ketika berjalam di trotoar.

Di bait ketiga "Aku sering diancam juga teror mencekam Ku bisa dibuat menderita Aku bisa dibuat tak bernyawa di kursi-listrikkan ataupun ditikam." Ancaman dan teror itu bisa dengan banyak cara dengan membuat si 'aku' menderita atau membuatnya terbunuh dengan cara dikursi listrikan atau ditikam. Ancaman dan teror itu akan terus berlanjut seiring sikap kita terhadap pemimpin pada saat itu, semunya harus tertata rapi tak ada yang boleh untuk melawan pemimpin bahkan untuk menuntut sebuah keadilan.

Untuk bait selanjutnya "Tapi aku tak pernah mati Tak akan berhenti Tapi aku tak pernah mati Tak akan berhenti." ketika Munir mati, sebenarnya ia tak mati sebab ia tetap hidup di jiwa-jiwa banyak orang yang masih peduli akan peristiwa tersebut. Tak akan berhenti untuk terus berjuang membela keadilan dan kebenaran. Kejadian tersebut hanya membuat jasadnya Munir saja yang mati tapi pemikiran dan semangatnya untuk membela HAM hidup di kepala banyak orang. Tak akan benar-benar berhenti.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sudahkah Merdeka?

Seringai - Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan) Individu, individu merdeka Individu, individu merdeka Individu, individu merdeka...